h_earth

ketumpulan hati, kegersangan jiwa, kejenuhan dalam menjalani kehidupan... sesungguhnya berakar pada kedangkalan ibadah orang yang bersangkutan kepada Allah. (Rahmat Abdullah)

Monday, March 05, 2007

yang penting dari sebuah kejatuhan adalah bangkit setelahnya

Seringkali dalam hidup, kita mengalami naik turun dalam berbagai aspek kehidupan. Baik itu iman, finansial, kepercayaan diri, kemampuan sosialisasi, daya juang, dan lain sebagainya. Sehingga perubahan merupakan hal yang niscaya dalam kehidupan kita. Bahkan ada ungkapan 'tidak ada yang tetap melainkan perubahan itu sendiri'. Artinya kita akan senantiasa mengalami berbagai perubahan dalam hidup ini. Lingkungan di sekitar kita, pastinya selalu berubah. Dan kita sebagai manusia yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu, terkadang mengalami 'kegoncangan' atau kebingungan saat dihadapkan pada situasi yang berbeda dari yang sebelumnya.

Terkadang lingkungan kita atau apa yang terjadi pada kita memang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Namun ternyata disitulah diri kita diuji. Prinsip kita diuji. Iman kita diuji. Akankah kita sabar dan ikhlas menerima apa yang digariskanNya untuk kita, atau kita menuntut, merasa tidak puas, dan protes sekeras-kerasnya kepadaNya.

Seringkali kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Seringkali kita merasa tidak puas dan tidak bersyukur dengan pemberianNya. Memang begitu mungkin tabiat manusia. Padahal Dia yang memberi sangat mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Bahkan saat Dia tidak memberikan apa yang kita inginkan, pasti disitu ada hikmah yang teramat besar.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al Baqarah : 216)

Saat itulah.. saat kita tidak menerima apa yang telah digariskanNya.. mungkin kita akan merasa kecewa, bahkan putus asa. Saat itu mungkin kita jatuh. Kita butuh seseorang untuk membantu kita bangkit atau sekedar menghibur dan menemani. Saat itu juga mungkin kita akan kecewa jika orang-orang yang mengaku sahabat atau teman, tidak kunjung datang untuk menemani kita. Padahal kejatuhan ini adalah satu titik kritis yang bisa menjadi momentum perubahan besar seseorang. Ada yang lari ke narkoba, rokok, minuman keras, pergaulan bebas, kebut-kebutan di jalan, dan lain sebagainya. Ada juga yang tidak seekstrim itu. Perubahan dirinya kecil-kecil saja, tapi sedikit demi sedikit mengikis prinsip yang dulu dipegangnya. Sehingga ia menjadi orang yang berbeda..

"Dia memang berubah", "Dia tidak seperti yang dulu lagi".. mungkin itu yang kita katakan ketika melihat orang yang kita kenal telah berubah. Adalah hak setiap orang untuk berubah dan menjadi apapun yang ia inginkan. Tapi tidak semua orang bisa menerima perubahannya. Menurutnya perubahannya itu baik, tapi menurut orang lain tidak demikian, bisa jadi orang yang lainnya lagi akan berpendapat berbeda. Kita memang tidak mungkin menuruti harapan setiap orang pada kita. Tapi ada satu parameter yang bisa digunakan untuk mengukur baik tidaknya perubahan diri kita : apakah perubahan itu mendekatkan kita dengan Allah? Apakah perubahan itu membuat Allah ridha kepada kita?

Mungkin sekali-kali perlu kita renungkan hal ini. Jika jawabannya tidak, mungkin kita perlu introspeksi diri. Jika ada yang salah, maka perlu kita perbaiki. Mungkin kita telah jatuh.. mungkin kita telah berubah dan melakukan banyak kesalahan. Saat kita sadar diri kita sudah terlalu jauh dengan diri kita dan idealismenya yang dulu.. Saat kita sadar sudah melakukan terlalu banyak kesalahan.. Lalu apa? Apakah kita hanya berdiam diri setelah menyadari itu semua? Apakah kita hanya menyesali dan terus berkubang di dalamnya?

Yang penting dari sebuah kejatuhan adalah untuk bangkit setelahnya...

Kita mungkin melakukan banyak kesalahan.. tapi Allah Maha Pengampun. Lupakah kita akan hal itu?

"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS Huud : 61)

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS Al Ahzab : 35)

"...Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Muzammil : 20)

Bukankah saat ada seorang hamba yang bertaubat, gembiranya Allah adalah seperti gembiranya seorang ibu yang menemukan anaknya yang sebelumnya hilang? Yakinlah cinta Allah jauh lebih besar dari cinta orang-orang yang selama ini kita gantungkan segenap harapan padanya. Jauh lebih besar dari cinta sahabat bahkan orang tua kita. Mungkin kita perlu belajar lagi untuk mencintai Allah tanpa mengkhianatiNya..

Jika kita kehilangan cinta, pasti ada alasan dibaliknya
Alasan yang sulit untuk dimengerti
Tapi ketika Ia mengambil sesuatu, maka Ia telah siap untuk menggantinya dengan yang lebih baik
Jika ingin dicintai, belajar mencintailah terlebih dulu
Jika ingin menyelam, belajarlah mengapung dulu
Kehidupan dirajut selama sembilan bulan
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan*

Teman dan lingkungan adalah faktor penting bagi seseorang untuk bangkit dari sebuah kejatuhan. Bila saat ini kita jauh dari teman-teman yang dulu selalu bersama kita.. Bila kini kita jauh dari lingkungan yang dulu sangat bisa menjaga kita.. Maka carilah teman dan lingkungan itu di tempat kita berada sekarang. Karena kebaikan ada di mana-mana. Yang penting kita memiliki kemauan. Karena kekuatan kemauan akan menggerakkan telinga kita untuk mendengar setiap hikmah dan mencari kebenaran, kekuatan kemauan akan menggerakkan kaki kita untuk pergi ke majelis ilmu, kekuatan kemauan akan menggerakkan hati kita untuk selalu mengingatNya, mendekatkan diri kita padaNya, sampai Dia pun berkenan memasukkan hidayahNya dalam hati kita, insya Allah..

"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS An-Nuur : 35)

Cahaya di atas cahaya...
Allah, karuniakan cahaya di mataku, cahaya di tanganku, cahaya di wajahku, cahaya di hatiku, cahaya di sekujur tubuhku...

Shibghatallah... wa man ahsanu minallahi shibghah**? wa nahnu lahu aabiduun...
"Celupan Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupannya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah." (QS Al-Baqarah : 138)

*dari dudung.net, tapi sepertinya tidak persis dengan tulisan aslinya, soalnya udah agak lupa
**Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan.


4 Little Star :
sementara ini dulu.. memang agak general sih.. soalnya buat org lain jg. Tapi bisa kita diskusikan lg ya...

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home